Kamis, 10 April 2014

Apa?


9 April 2014- sebuah kisah yang mungkin bisa membuat bathinku bingung.
Mengapa tidak, hari itu aku tidur siang sekitar pukul 15.15 dan aku mimpi bahwa tangan kiriku bergetar, dalam mimpi itu aku melihat sebuah pintu kereta dan sebuah tangga naik menuju kereta. Lalu aku berbalik dalam mimpi itu aku melihat hembusan angin menghampiriku bukan, atau entah apa yang dibisikan angin itu pada telingaku, jika aku bisa menerjemahkannya mungkin saat ini takkan menjadi sebuah perdebatan sengit adlam pikiranku.
                16.30 aku melihat jam, saat itu adalah saat yang tidak aku sukai dimana aku bangun tidur dengan perasaan yang tidak enak, aku bagaikan tak mampu berbuat apa-apa diam dan terkulai lemas.
                Sekitar 17.15 aku pergi kestasiun menaiki kereta KRD pukul 18.25, setelah kereta datang aku tidak bergegas menaikinya, ada perasaan khawatir yang datang, tangan kananku bergetar. Ini real, mimpi itu menyembul menjadi sebuah kenyataan. Meski dalam mimpi tangan kiriku yang bergetar dan saat aku menuliskan inipun tanganku masih tetap bergetar. Hingga aku mendapat kursi paling pojok. Dekat dengan sambungan gerbong, tak lama ada dua orang satpam yang entah mengapa mereka jalan bergegas dan berbicang di sambungan gerbong itu, pesrsis disebelahku, awalnya aku tidak memperhatikan tapi setelah bannyak orang yang memperhatikan, fokussku teralihkan dari lamunan menjadi pemngawasan dengan rasa ingin tahu.
Tak lama salah satu satpam menelpon seseorang, lalu satpam yang lainpun mengambil hp itu dan berbincang dengan sopan, hingga stpam yang sedang menelpon membawa hp itu keluar kereta, dan yang lain mengikutnya sambil berteriak. “ambil saja hp ku sana! Nanti saya balik lagi kesini!’’ dengan nada tinggi, sepertinya mereka sedang bertengkar.
Hingga seseorang diseberang tempat dudukku berkata, bahwa mungkin diantara satpam satpam itu terjadi kesalahpahaman,  karna satpam yang dikejar/ yang menelpon seseorang pertama kali itu, adalah satpam yang sadis –katanya- karna dia telah mendorong seorang penumpang yang tidak memiliki karcis dari atas kereta keluar. And penumpang illegal itu terjatuh, para penumpang menjadi marah pada satpam itu. Dan kejadian itu terjadi pada pagi hari saat satpam itu sedang dinas dan sekarang satpam yang lain terkena dampaknya, entah apa yang terjadi sebenarnya, tapi itulah yang aku dengar dari penumpang diseberangku itu.
Tak lama aku dikejutkan dengan bunyi dentuman, dan kepala satpam yang dinas pagi itu berada di sebuah TANGGA kereta tepat di PINTU kereta dihadapanku. Semua berlari kepintu itu, sampai aku tak bisa melihat mereka lagi karna ditutupi para penumpang. Tapi yang terakhir aku lihat, ya kepala satpam yang dinas pagi itu terkena pintu, dan meminta tolong. Anda you know, tak ada yang membantu sama sekali, tak ada yang berusaha memisahkan, mereka hanya menonton. Sampai ada seorang bapa-bapa berkata “sudah,sudah masa keamanan bertengkkar” kata bapa itu dan satpam-satpam itu tetap bertengkar, saling mencekik satu sama lain-katanya- itu sekitar pukul 18.25
Pukul 18.28 kereta berjalan menuju stasiun berikutnya dan pikiranku masih melayang-layang, tak bisa aku ceritakan semua tentang apa yang aku bayangkan..
Pukul 18.59 kereta tiba di stasiun berikutnya, sekita kurang dari 5 meter menuju pemberhentian, kereta mulai merasa terguncang, kupikir kereta anjlok, dan jujur aku senang berada diluar saat sore. Dua orang penumpang naik kereta, mereka adalah pasangan, dan sang wanita terlihat panic dan pucat, ang pria mencoba menenangkan, tangan mereka saling berpeganangn, dan sang pria tetap mencoba meyakinkan bahwa ini akan baik-baik saja. Lalu ada seseorang penumpang yang bertanya kepada pasangan itu. “ada apa kang?”
Pria itu menjawab :”ada yang bunuh diri pak, saat kereta datang, seseorang menjatuhkan diri dari peron, jatuhnya pun seperti dibawa ANGIN, melayang begitu saja”
“oh pantesan mungkin tadi masinis merem kreta tiba-tiba, sehingga kereta berguncang”
Perbincangan terjadi bukan hanya diantara mereka, tapi dalam bathinku. Tidakkah kalian sadari kalau aku bisa mengartikan semua isyarat itu mungkin semua akan baik-baik saja, bukankah dulu pun seperti itu, seseorang terjatuh dari ketinggian dengan memakai baju hitam dan aku melihat diantara air-air. And itu kejadian, jembatan itu an sunngai itu seseorang gantung diri disana. Tidakkah ada rasa bersalah darimu mel? “amat sangat”
Ingat saat sahabatku jatuh sakit DBD? Apa yang aku impikan seperti itu. Kuceritakan pada seseorang seetelah setengahnya berjalan, dan setengah dari endingnya tak menjaddi nyata. So aku tidak mau dicap sebagai pembohong. Tapi jika aku diam aku salah. Dan  apa yang mesti aku lakukan?
Jangan pikir aku hanya ingin dipuji hebat, atau apapun, karna ini bukan masalah tentang bisa/tidaknya kemampuan ini didapat. Tapi sulit untuk bisa beradaptasi dengan ini. Terlebih dengan rasa bersalah dan tak tau cara bertindak. Memang takdir tak bisa dihalangi layaknya film-film ditv, tapi setidaknya ada hal yang berguna yang bisa akku lakukan.