9 April 2014- sebuah kisah yang
mungkin bisa membuat bathinku bingung.
Mengapa tidak, hari itu aku tidur
siang sekitar pukul 15.15 dan aku mimpi bahwa tangan kiriku bergetar, dalam
mimpi itu aku melihat sebuah pintu kereta dan sebuah tangga naik menuju kereta.
Lalu aku berbalik dalam mimpi itu aku melihat hembusan angin menghampiriku
bukan, atau entah apa yang dibisikan angin itu pada telingaku, jika aku bisa
menerjemahkannya mungkin saat ini takkan menjadi sebuah perdebatan sengit adlam
pikiranku.
16.30
aku melihat jam, saat itu adalah saat yang tidak aku sukai dimana aku bangun
tidur dengan perasaan yang tidak enak, aku bagaikan tak mampu berbuat apa-apa
diam dan terkulai lemas.
Sekitar
17.15 aku pergi kestasiun menaiki kereta KRD pukul 18.25, setelah kereta datang
aku tidak bergegas menaikinya, ada perasaan khawatir yang datang, tangan
kananku bergetar. Ini real, mimpi itu menyembul menjadi sebuah kenyataan. Meski
dalam mimpi tangan kiriku yang bergetar dan saat aku menuliskan inipun tanganku
masih tetap bergetar. Hingga aku mendapat kursi paling pojok. Dekat dengan
sambungan gerbong, tak lama ada dua orang satpam yang entah mengapa mereka
jalan bergegas dan berbicang di sambungan gerbong itu, pesrsis disebelahku,
awalnya aku tidak memperhatikan tapi setelah bannyak orang yang memperhatikan,
fokussku teralihkan dari lamunan menjadi pemngawasan dengan rasa ingin tahu.
Tak lama salah satu satpam menelpon
seseorang, lalu satpam yang lainpun mengambil hp itu dan berbincang dengan
sopan, hingga stpam yang sedang menelpon membawa hp itu keluar kereta, dan yang
lain mengikutnya sambil berteriak. “ambil saja hp ku sana! Nanti saya balik
lagi kesini!’’ dengan nada tinggi, sepertinya mereka sedang bertengkar.
Hingga seseorang diseberang tempat
dudukku berkata, bahwa mungkin diantara satpam satpam itu terjadi
kesalahpahaman, karna satpam yang
dikejar/ yang menelpon seseorang pertama kali itu, adalah satpam yang sadis –katanya-
karna dia telah mendorong seorang penumpang yang tidak memiliki karcis dari
atas kereta keluar. And penumpang illegal itu terjatuh, para penumpang menjadi
marah pada satpam itu. Dan kejadian itu terjadi pada pagi hari saat satpam itu
sedang dinas dan sekarang satpam yang lain terkena dampaknya, entah apa yang
terjadi sebenarnya, tapi itulah yang aku dengar dari penumpang diseberangku
itu.
Tak lama aku dikejutkan dengan
bunyi dentuman, dan kepala satpam yang dinas pagi itu berada di sebuah TANGGA
kereta tepat di PINTU kereta dihadapanku. Semua berlari kepintu itu, sampai aku
tak bisa melihat mereka lagi karna ditutupi para penumpang. Tapi yang terakhir
aku lihat, ya kepala satpam yang dinas pagi itu terkena pintu, dan meminta
tolong. Anda you know, tak ada yang membantu sama sekali, tak ada yang berusaha
memisahkan, mereka hanya menonton. Sampai ada seorang bapa-bapa berkata “sudah,sudah
masa keamanan bertengkkar” kata bapa itu dan satpam-satpam itu tetap
bertengkar, saling mencekik satu sama lain-katanya- itu sekitar pukul 18.25
Pukul 18.28 kereta berjalan menuju
stasiun berikutnya dan pikiranku masih melayang-layang, tak bisa aku ceritakan
semua tentang apa yang aku bayangkan..
Pukul 18.59 kereta tiba di stasiun
berikutnya, sekita kurang dari 5 meter menuju pemberhentian, kereta mulai
merasa terguncang, kupikir kereta anjlok, dan jujur aku senang berada diluar
saat sore. Dua orang penumpang naik kereta, mereka adalah pasangan, dan sang
wanita terlihat panic dan pucat, ang pria mencoba menenangkan, tangan mereka
saling berpeganangn, dan sang pria tetap mencoba meyakinkan bahwa ini akan
baik-baik saja. Lalu ada seseorang penumpang yang bertanya kepada pasangan itu.
“ada apa kang?”
Pria itu menjawab :”ada yang bunuh
diri pak, saat kereta datang, seseorang menjatuhkan diri dari peron, jatuhnya
pun seperti dibawa ANGIN, melayang begitu saja”
“oh pantesan mungkin tadi masinis
merem kreta tiba-tiba, sehingga kereta berguncang”
Perbincangan terjadi bukan hanya
diantara mereka, tapi dalam bathinku. Tidakkah kalian sadari kalau aku bisa
mengartikan semua isyarat itu mungkin semua akan baik-baik saja, bukankah dulu
pun seperti itu, seseorang terjatuh dari ketinggian dengan memakai baju hitam
dan aku melihat diantara air-air. And itu kejadian, jembatan itu an sunngai itu
seseorang gantung diri disana. Tidakkah ada rasa bersalah darimu mel? “amat
sangat”
Ingat saat sahabatku jatuh sakit
DBD? Apa yang aku impikan seperti itu. Kuceritakan pada seseorang seetelah
setengahnya berjalan, dan setengah dari endingnya tak menjaddi nyata. So aku tidak
mau dicap sebagai pembohong. Tapi jika aku diam aku salah. Dan apa yang mesti aku lakukan?
Jangan pikir aku hanya ingin dipuji
hebat, atau apapun, karna ini bukan masalah tentang bisa/tidaknya kemampuan ini
didapat. Tapi sulit untuk bisa beradaptasi dengan ini. Terlebih dengan rasa
bersalah dan tak tau cara bertindak. Memang takdir tak bisa dihalangi layaknya
film-film ditv, tapi setidaknya ada hal yang berguna yang bisa akku lakukan.